
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إبراهيم غزالي
Bani KH. Ibrahim Ghozali
1812 – 1917 · Bedi, Polorejo, Babadan, Ponorogo
Mengenal asal, merawat warisan, menyambung silaturahmi.
“Dari Bedi, sebuah hutan yang dibabat dengan doa pada pertengahan abad ke-19, lahir sebuah keluarga besar. KH. Ibrahim Ghozali (1812–1917) — hafiz, penyalin mushaf, dan pendiri Pondok Bedi — mewariskan ilmu, akhlak, dan tali silaturahmi yang kini mengikat ribuan dzurriyah di seluruh Nusantara.”
- Bani (cabang)
- 6
- Generasi keturunan
- 8
- Nama dalam Buku TALI 2022
- ±3.700
- Silatul Arham sejak 1985
- 7
- Mushaf tulisan tangan
- ±11
Enam mata rantai
Enam Putra-Putri, Enam Bani
KH. Ibrahim dan Ny. Sudjinah dikaruniai enam anak. Setiap anak menjadi pangkal satu Bani — enam rantai pada lambang RABIGH.
- 1
NIT 1
Bani Roisah
bersama K. Iskandar
Bedi, Ponorogo
9 cucu1.570 keturunan tercatatLihat Bani → - 2
NIT 2
Bani Zainab
bersama KH. Umar
Tamanan, Ponorogo
8 cucu696 keturunan tercatatLihat Bani → - 3
NIT 3
Bani Marjiyah (Hj. Maimunah)
bersama KH. Imam Faqih
Plosorejo, Baron, Nganjuk
8 cucu582 keturunan tercatatLihat Bani → - 4
NIT 4
Bani KH. Ridlwan
bersama Ny. Taslimatun
Bakalan, Ponorogo
2 cucu33 keturunan tercatatLihat Bani → - 5
NIT 5
Bani Sudjinah
bersama H. Ahmad
Wonosari, Tanjunganom, Nganjuk
2 cucu120 keturunan tercatatLihat Bani → - 6
NIT 6
Bani Hj. Syarifah
bersama KH. Imam Rozi
Bedi, Ponorogo
9 cucu780 keturunan tercatatLihat Bani →
Delapan Generasi, Istilah Jawa
Orang Jawa punya nama untuk setiap tingkat keturunan. Inilah jumlah dzurriyah KH. Ibrahim di setiap tingkat menurut Buku TALI 2022.
Generasi 1
Anak
Anak
6
Generasi 2
Putu
Cucu
38
Generasi 3
Buyut
Cicit
180
Generasi 4
Canggah
Piut
639
Generasi 5
Wareng
Anak piut
1.565
Generasi 6
Udhek-udhek
Generasi ke-6
1.155
Generasi 7
Gantung siwur
Generasi ke-7
200
Generasi 8
Gropak senthe
Generasi ke-8
4
Kisah & Teladan
Semua 12 kisah →Memuliakan Pencuri
Tiga pencuri yang masuk rumah justru 'tersesat di hutan' semalaman lalu tertidur di lantai kamar Kyai. Kyai tidak memanggil santri; ia menyembelih ayam jago, meminta Nyai memasak, lalu mengajak para pencuri sarapan, membekali masing-masing sebathok beras, dan berterima kasih karena 'telah menjaga rumahnya semalaman'. Mereka bertaubat. Kisah serupa: pencuri kelapa yang 'tak bisa turun', dan semut geni yang menggagalkan lima galian maling.
Buku TALI 2022, hlm. 15
Harga Sebuah Mushaf
Al-Qur'an masih langka di Jawa. Sepulang dari Makkah (1847) dengan sebuah mushaf, KH. Ibrahim menyalin Al-Qur'an selepas tahajud dengan pena sodo aren dan tinta bak. Mushaf pertama selesai setahun; pesanan seorang santri selesai enam bulan dengan imbalan dua ekor sapi — dijual untuk membangun pondok, tempat wudhu dan memperbaiki masjid. Pemesan dari Banyuwangi dan Kedu memberi hingga Rp 50 (seekor sapi ±Rp 10). Disebut ia menyalin 11 mushaf semasa hidup. Kajian kodikologi (Nun 7(1), 2021) mendapati kertas Eropa ber-watermark Heelsum, Belanda, rasm campuran utsmani–imla'i, dan qiraat 'Ashim riwayat Hafs.
Buku TALI 2022, hlm. 16
Kasih kepada Sesama Makhluk
Ia tidak mengusir ayam yang memakan padi jemurannya. Bila burung bertengger atau mencari makan di jalan yang akan dilalui, ia menunggu atau memilih jalan lain: 'Pilih golek dalan liyo, katimbang ganggu manuk sing lagi golek pangan.'
Buku TALI 2022, hlm. 17
Jelajahi
Nasab ke Atas
Empat jalur leluhur — Sunan Ampel, Maulana Ishaq, Brawijaya V, Bethoro Katong.
Apa Hubungan Kita?
Pilih dua nama, temukan leluhur bersama dan istilah kekerabatan.
Mushaf & Kitab
Al-Qur’an dan kitab tulisan tangan beliau, kini di serambi Masjid Bedi.
Tiga Masjid
Bedi, Tamanan, dan Al-Ibrahim Bakalan.

Silatul Arham
Pertemuan besar keluarga, diadakan kira-kira lima tahun sekali, dan setiap kali Buku TALI diperbarui.
- VII · 2022Masjid Baitus Sholihin, Serag, Pulung, Ponorogo
- VI · 2016Masjid Al-Islah, Santren, Ngronggot, Nganjuk
- V · 2011Masjid Ibrohim Ghozali, Bedi, Polorejo, Babadan, Ponorogo
- VIII · ±2027Akan datang — bantu lengkapi data keluarga untuk Buku TALI edisi ke-8.